SAID, Komputerisasi Data Desa

Keringat basah membanjiri dahi Pak Santo. Hasil kerja yang membuat dia lembur selama berhari-hari hilang bersama laptopnya yang digondol maling semalam. “Duh kanak, dimarahi Pak Bos ini…”, gumamnya bergidik ngeri. Backup hasil kerjanya juga tidak ada, wong flashdisk saja dia pinjam ke tetangga. Amukan bosnya tak terbayang lagi.

Ilustrasi tersebut menggambarkan pentingnya cloud storage (penyimpanan data di dunia maya) sebagai media simpan dalam berbagai jenis pekerjaan. Ketika laptop yang digunakan mengerjakan sesuatu tesebut rusak atau hilang, data yang dikerjakan tetap aman dan bisa diakses di komputer lain. Atas dasar inilah, cloud storage saat ini mulai digalakkan di berbagai lini pemerintahan, entah itu di kabupaten, kecamatan, hingga di desa-desa. Di Desa, cloud storage ini diterapkan dalam penggunaan SAID.

SAID sediri merupakan akronim dari Sistem Administrasi dan Informasi Desa. SAID merangkum data kependudukan, data kemiskinan, hingga informasi terupdate yang terjadi di desa tersebut. “SAID bukan sebuah aplikasi, tetapi lebih ke web application yang bisa dipanggil dari laptop manapun”, jelas Hermanto Rachman saat mengisi tentang Bimbingan Teknis Pembekalan Penggunaan SAID di Gedung Sabha Bina pada tanggal 01 Agustus 2017. Lanjutnya, “sehingga apabila laptop yang dipakai untuk mengerjakan data-data milik desa rusak, data yang sudah dikerjakan masih aman dan bisa diakses”. Penerapan SAID ini juga merupakan salah satu program kerja wajib yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN Tematik UMD di Kabupaten Bondowoso.

SAID memang mudah diakses dimana saja, akan tetapi penerapannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agar penerapan SAID di desa bisa dilakukan dengan mudah, maka perlu dibentuk sebuah kepengurusan yang selanjutnya disebut sebagai PPID (Pejabat Pengelola Informasi Desa). PPID ini bertugas untuk menjalankan segala informasi yang ada di desa tersebut.

PERKADES, PERATURAN KEPALA DESA YANG MENJADI JALAN TOL PENERAPAN SAID
Penerapan SAID di desa seolah jalan makadam  menuju puncak gunung bagi mahasiswa. Tidak semua desa memiliki jaringan internet, meskipun ada terkadang biaya tagihan internet belum dibayar karena Anggaran Dana Desa belum cair. Selain itu, tidak semua desa mengerti dan memahami tentang pentingnya penggunaan SAID dalam pemerintahan desa. Untunglah hal tersebut tidak terjadi di desa Kasemek Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Jaringan internet, ada. Pemahaman perangkat desa tentang pentingnya penggunaan internet dalam pemerintahan desa, ada. Satu-satunya sandungan dalam  penerapan SAID ini adalah peraturan yang mengatur tentang Pejabat Pengelola Informasi Desa belum pernah dibuat ataupun didengar di desa ini, sehingga tugas utama Mahasiswa KKN Tematik UMD Kelompok 39 yang bertugas di desa ini adalah membuat struktur PPID yang kemudian disahkan oleh Kepala Desa melalui Perkades. Berikut adalah isi dari Perkades dan Surat Keterangan yang telah ditetapkan pada tanggal 27 Juli 2017 oleh Kepala Desa Kasemek, Bapak Febri Kristian Ludiyanto.

Dengan disahkannya Peraturan Kepala Desa, besar harapan bahwa penggunaan SAID dan web desa akan diterapkan dan berjalan 100% di desa Kasemek. Semangat, PPID!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *